Saya memang sangat meyakini mengenai perbedaan golongan darah dan pengaruhnya dalam kesehatan kita, dan ini ada satu berita baru yang sangat menarik perhatian saya. Saya membacanya di buletin “NOVA 1149/XXIII 1-7 Maret 2010″ halaman 46-47 mengenai : “Kesehatan” dengan judul : “Buah Hati Kuning Karena Tak Cocok Golongan Darah?”, tulisan : Laili Damayanti. Saya menyalinnya secara lengkap agar bisa juga menjadi informasi berharga buat semua yang membacanya, sbb :

Perbedaan golongan darah bayi dan ibu bisa menyebabkan bayi baru lahir mengalami kuning yang hebat dan membahayakan kelangsungan hidup bayi. Yuk, cari tahu soal perbedaan golongan darah ibu-bayi.

Beberapa waktu yang lalu pasangan artis Nirina Zubir dan Ernest “Cokelat”, dibuat kalang kabut di rumah sakit. Setelah bayi mungil mereka Zivara dilahirkan, muncul masalah baru yang tak kalah pelik. Bayi mereka mengalami kuning atau yang dalam medis disebut juga dengan ikterus oleh hyperbilirubinemia.

Kondisi ini didiagnosis oleh dokter disebabkan ketidakcocokan golongan darah ibu dengan bayi atau yang dikenal dengan A-B-O incompability. Di mana golongan darah anak yang berjenis B bereaksi dengan golongan darah ibu yang berjenis O yang mengalir dalam tubuh anak, sehingga sel darah merahnya mudah pecah dan meningkatkan konsentrasi bilirubin dalam aliran darah.

Meski secara fisiologis semua bayi dapat mengalami kuning, namun bila tidak ditangani secara tepat juga dapat berakibat fatal.

“Kuning yang hebat pada bayi, bisa menyumbang terjadinya kerusakan sel otak permanen”, ujar dr. Setyadewi Lusyati, Sp.A(K) konsultan neonatologi RSAB Harapan Kita – Jakarta mengingatkan.

Inilah mengapa, dokter anak cukup berhati-hati memantau perkembangan bayi baru lahir, terutama dalam 3 hari setelah dilahirkan. Umumnya kuning fisiologis baru akan muncul setelah bayi berusia 3 hari. Bila kurang dari itu, dokter anak akan mengobservasi perkembangan hyperbilirubinemia sembari melakukan upaya penyinaran.

Berkaca pada pengalaman pasangan Nirina-Ernest, pasangan suami-istri sebaiknya tidak main-main dengan perbedaan golongan darah. Khususnya istri dengan golongan darah O dan suami bukan O.

Nah, agar tidak mengalami risiko yang fatal sebaiknya ketahui seluk beluk soal ketidakcocokan golongan darah.

Akibat Beda Golongan

Setidaknya ada 4 golongan darah A, B, AB dan O yang dikenal secara universal. Keempat golongan ini memiliki kandungan dan karakteristik yang berbeda. Golongan darah A dikatakan memiliki kandungan antigen A, golongan darah B memiliki kandungan antigen B, golongan darah AB memiliki antigen B dan antigen A, sedangkan golongan darah O memiliki anti A dan anti B. Kandungan ini yang menyebabkan tubuh membentuk antibodi dan menyerang sel darah merah yang mengandung zat antigen (dianggap sebagai benda asing, red).

Pada proses persalinan, darah ibu yang bergolongan darah O akan berkontak lebih banyak dengan golongan darah anak. Banyaknya darah janin yang memiliki antigen masuk sirkulasi darah ibu, membuat sistem imun ibu membentuk kekebalan (antibodi) terhadap antigen A ataupun antigen B. Kekebalan ini kemudian menyerang darah anak yang memiliki antigen tersebut sehingga sel darah merah pecah dan menjadi bilirubin (indirect). Ini dapat mengakibatkan bayi menjadi kuning.

Padahal dalam kondisi normal saja, bayi memiliki potensi peningkatan bilirubin yang lebih tinggi ketimbang orang dewasa karena sifat sel darah merah bayi lebih mudah pecah. Namun biasanya, tubuh bayi akan berusaha menstabilkan kadar bilirubin dengan mekanisme konjugasi oleh hati. Yaitu, upaya mengubah menjadi bilirubin indirect menjadi bilirubin direct yang lebih larut air dan mudah dikeluarkan alias mengubah bilirubin menjadi cairan empedu serta dikeluarkan melalui pencernaan dan memberi warna pada feses. Umumnya setelah lewat 10 hari, kuning pada bayi akan hilang seiring kualitas dinding sel darah merah yang semakin baik dan fungsi hati yang optimal mengkonjugasi bilirubin.

Tak Selalu Transfusi

Sayangnya, peningkatan kadar bilirubin pada bayi kadangkala tidak bisa ditolerir oleh tubuh sendiri. Kadar bilirubin pun menumpuk dalam darah terlalu tinggi.

Padahal ambang toleransi bilirubin dalam darah di bawah 15 mg/dl (250 umol/L) pada bayi cukup bulan dan 12 mg/dl (250 umol/L) pada bayi kurang bulan.

Selain kadar bilirubin yang diperhitungkan, percepatan kenaikan bilirubin pun patut dipertimbangkan. Dokter anak memiliki patokan untuk menoleransi kenaikan bilirubin salah satunya dengan melihat manifestasi hyperbilirubinemia dengan hitungan Kramer. Skor Kramer dihitung dengan melihat ikterus (kuning) yang menyebar, mulai dari wajah ke leher (K1), wajah ke pusar (K2), wajah dan badan hingga pangkal paha (K3), wajah ke lutut serta lengan hingga siku (K4) dan seluruh badan hingga jari tangan serta kaki (K5). Jika telah memasuki level K2 di hari kedua, maka sudah termasuk tidak normal.

“Normalnya bayi usia 3 hari, kuning dapat terjadi dari wajah hingga pusar. Bila belum berusia 3 hari sudah menunjukkan kuning hingga pusar, maka patut diwaspadai”, ungkap dokter Lusy.

Dokter Lusy menambahkan, penilaian kuning pada bayi ini seringkali tersamar oleh warna kulit bayi baru lahir yang kemerahan. Inilah sebabnya penilaian kuning bayi baru lahir, sebaiknya dipercayakan pada petugas medis dan dokter anak yang lebih berpengalaman.

Padahal bila kuning sudah mencapai pusar, bisa diprediksi bilirubin berjumlah sekitar 12 mg/dl. Bila peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam, padahal kuning biasa berlangsung sampai sekitar hari kelima hingga ketujuh, maka bilirubin mencapai angka di kisaran 20 hingga 25 mg/dl. Di sinilah orang tua harus waspada. Bila melewati jumlah 25 mg/dl bisa terjadi ensefalopati bilirubin akut. Yakni resiko masuknya bilirubin indirect (dalam darah) melewati blood brain barrier dan merusak sel-sel dalam otak. Selain kerusakan sel otak, peningkatan bilirubin juga dapat diiringi dengan resiko penurunan hemoglobin (Hb) sebagai akibat banyaknya sel darah merah yang pecah.

Pada kasus Zivara (putri Nirina-Ernest, red) di mana bilirubin terlalu tinggi dan kenaikan level kuning yang terlalu cepat, dokter kemudian menyarankan dilakukan transfusi pertukaran darah untuk mengganti darah anak dengan darah donor (golongan O). Keputusan ini sah saja diambil, mengingat masa depan anak dipertaruhkan bila kuning tidak segera dikendalikan.

Tindakan ini sebenarnya  jarang diambil oleh dokter anak. Menurut dokter Lusy, umumnya untuk kasus kuning pada bayi baru lahir, masih dapat diupayakan melalui terapi sinar (phototheraphy). Tujuannya, membantu mengubah bilirubin indirect menjadi lumirubin yang lebih mudah diubah oleh tubuh bayi. Hanya sekitar 15% kasus hyperbilirubinemia yang dilakukan transfusi pertukaran darah.

Bisa Akibatkan Cerebral Palsy

Mengapa hyperbilirubinemia harus ditangani tepat? Dikatakan dokter Lusy, bila bilirubin indirect terlampau pekat dalam darah, ia mampu menembus blood brain barrier menuju sel otak, ini dapat mengakibatkan kerusakan permanen otak.

“Sayangnya, sel otak tidak bisa diperbarui layaknya sel tubuh lain. Akibatnya, bisa menyebabkan cacat permanen pada anak,” tegasnya,

Kecacatan yang paling banyak disebabkan hyperbilirubinemia adalah celebral palsy atau kekakuan pada anggota badan yang disebabkan kerusakan pada pusat pengendali motorik pada korteks di otak.

Selain itu, hyperbilirubinemia juga bisa menyebabkan kerusakan pendengaran, bila kerusakan sel otak terjadi pada bagian yang mengendalikan kemampuan mendengar. Tentu saja, tuli akibat hyperbilirubinemia tidak terjadi spontan namun berupa degradasi kemampuan mendengar.

Demikianlah kutipan ini, mungkin para blogger ada yang ingin berkomentar, atau memberikan tambahan input yang bermanfaat untuk kita saling membagi pengalaman dan pengetahuan.